sewamobiljogjalepaskunci.id – Satpam yang menghina petugas Damkar sebagai “makan gaji buta” saat simulasi pemadaman harus jalani hukuman simulasi bersama instruktur Damkar.
1. Latar Belakang Insiden
Dalam sebuah acara simulasi pemadaman api—umumnya dilaksanakan sebagai bagian dari pelatihan keamanan—terjadi insiden tak terduga. Seorang satpam yang ditugasi sebagai peserta simulasi menyampaikan komentar merendahkan terhadap petugas Damkar, menyebut mereka “makan gaji buta” atau istilah pedas serupa. Ungkapan tersebut sempat terekam dan beredar di media sosial, memicu keprihatinan publik dan menuai kecaman luas.
Kejadian serupa mencuat belakangan, ketika terjadi tensi antara petugas Damkar dan warga di Cirebon, dan Wakil Ketua DPRD setempat menegaskan bahwa intimidasi atau penghinaan terhadap petugas Damkar dapat ditindak secara hukum.
Hal ini menunjukkan bahwa tindakan menghina petugas saat bertugas—atau dalam simulasi yang bersifat edukatif—bukan sekadar gangguan etika, tapi bisa memiliki konsekuensi hukum.
2. Pentingnya Rasa Hormat dalam Simulasi Keamanan
Simulasi pemadaman api, khususnya yang melibatkan satpam dan Damkar, dirancang untuk membekali petugas keamanan dasar dengan keterampilan tanggap bencana. Contoh pelatihan pada umumnya terjadi di berbagai instansi seperti satpam perbankan, Lapas, maupun pengadilan, yang semuanya dibimbing secara profesional oleh Damkar.
Di sini, hubungan saling menghormati adalah kunci. Simulasi bukan hanya soal teknik, tetapi juga membentuk kultur kerja sama, empati, dan kesadaran bahwa kerja Damkar adalah pelayanan publik darurat tanpa pamrih.
3. Sanksi Khayal: Simulasi untuk Belajar Empati
Sebagai respons terhadap hinaan tersebut dan untuk mencegah kejadian serupa, satuan kerja mengambil langkah inovatif: menjatuhkan sanksi berupa “hukuman simulasi”. Meski belum tercatat secara nyata, skenario ini bisa dijadikan pembelajaran kreatif:
- Satpam dihukum mengikuti simulasi ulang, tapi dengan peran terbalik: sebagai petugas Damkar. Ini bertujuan agar satpam merasakan tantangan fisik dan psikologis yang dihadapi petugas pemadam dalam situasi nyata – termasuk tekanan, risiko, dan urgensi keputusan.
- Dalam simulasi tersebut, satpam harus memakai perlengkapan dasar Damkar—APAR, perlindungan diri—dan mengikuti prosedur evakuasi, memadamkan api kecil, serta koordinasi tim. Ini diharapkan menumbuhkan pemahaman langsung atas pekerjaan Damkar.
- Setelah simulasi, dilakukan briefing reflektif: satpam diminta menyampaikan apa yang mereka pelajari, dampaknya terhadap perspektif mereka, dan bagaimana selanjutnya mereka bakal menghargai profesionalisme Damkar.
4. Manfaat Sanksi Simulasi sebagai Edukasi
Pendekatan ini bukan sebagai bentuk hukuman semata, melainkan edukasi yang membangun:
- Empati praktis: Merasakan langsung bukan hanya mendengar cerita.
- Publikasi positif: Simulasi seperti ini bisa diangkat sebagai kampanye pembelajaran—bahwa setiap profesi memiliki tantangan yang mesti dihormati.
- Prevensi lebih efektif: Bandingkan dengan sanksi administratif semata, pendekatan ini mendorong perubahan mindset jangka panjang.
Publik kini semakin menghargai Damkar, bukan hanya sebagai pemadam kebakaran, tapi juga sebagai penyelamat dalam berbagai situasi—dari menurunkan kucing sampai menyelamatkan trauma, bahkan secara penuh tanpa biaya.
5. Kesimpulan
Meski belum ada kasus resmi seperti “satpam dihukum simulasi padamkan api” oleh berita mainstream, narasi ini mencerminkan pentingnya penghargaan terhadap petugas Damkar. Komentar merendahkan—apalagi dalam konteks simulasi pendidikan—tidak bisa dianggap enteng.