sewamobiljogjalepaskunci.id – Pada akhir pekan menjelang 25 Agustus 2025, ribuan pendukung pemerintah Venezuela berbondong-bondong mendaftar sebagai Milisi Venezuela menyusul perintah Presiden Nicolas Maduro untuk memobilisasi 4,5 juta anggota. Langkah ini merupakan respons atas pengerahan tiga kapal perusak berpeluru kendali AS ke wilayah Karibia, yang oleh Pentagon disebut sebagai operasi anti-narkoba. Ketegangan meningkat setelah AS menggandakan hadiah penangkapan Maduro menjadi USD50 juta, menuduhnya terlibat kartel narkoba. Milisi Venezuela, yang dibentuk era Hugo Chavez, menjadi simbol perlawanan terhadap ancaman eksternal. Artikel ini mengulas mobilisasi Milisi Venezuela, respons regional, dan implikasi geopolitik, per 25 Agustus 2025.
Mobilisasi 4,5 Juta Milisi Venezuela
Presiden Nicolas Maduro mengumumkan mobilisasi 4,5 juta Milisi Venezuela pada 18 Agustus 2025, sebagai respons atas apa yang ia sebut “provokasi tidak dapat diterima” dari AS. Menurut AnadoluAgency.com, Maduro mendesak warga untuk mendaftar secara massal guna memperkuat pertahanan nasional. Milisi Venezuela, yang resmi menjadi bagian Angkatan Bersenjata pada 2019, diklaim memiliki hampir 5 juta anggota, meskipun analis memperkirakan jumlah aktif lebih rendah.
Mobilisasi ini melibatkan distribusi senjata ringan seperti AK-103 buatan lokal dan sistem rudal seperti Igla-S dan Kornet. Maduro menegaskan, “Kami akan mempertahankan laut, langit, dan tanah kami,” menekankan kesiapan Milisi Venezuela menghadapi potensi invasi. Namun, pemimpin oposisi Maria Corina Machado, seperti dikutip @MarioNawfal di X, mengklaim bahwa dukungan militer senior terhadap Maduro terbatas, menimbulkan keraguan tentang efektivitas mobilisasi ini.
Pengerahan Militer AS di Karibia
Pengerahan militer AS, yang diumumkan Pentagon pada Agustus 2025, mencakup tiga kapal perusak (USS Gravely, USS Jason Dunham, USS Sampson), skuadron amfibi Iwo Jima, dan sekitar 4.500 pelaut serta 22.000 marinir. Menurut Reuters.com, operasi ini bertujuan memerangi kartel narkoba di Karibia. Namun, Maduro menilai langkah ini sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan Venezuela.
Ketegangan meningkat setelah Departemen Kehakiman AS menggandakan hadiah penangkapan Maduro menjadi USD50 juta, menuduhnya memimpin Cartel de los Soles. Tuduhan ini ditolak Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil, yang menyebutnya “tanda keputusasaan AS,” merujuk laporan UNODC bahwa hanya 5% narkoba Kolombia transit melalui Venezuela. Milisi Venezuela menjadi tulang punggung strategi Maduro untuk mencegah intervensi AS.
Respons Regional terhadap Ketegangan
Respons regional terhadap ketegangan ini bervariasi. Trinidad dan Tobago, melalui Perdana Menteri Kamla Persad-Bissessar, menyatakan dukungan penuh terhadap operasi anti-narkoba AS, sembari menegaskan hubungan baik dengan rakyat Venezuela. Namun, ia menambahkan bahwa Trinidad akan mengizinkan akses militer AS jika Maduro menyerang Guyana terkait sengketa wilayah Essequibo. Guyana, yang berkonflik dengan Venezuela atas wilayah kaya minyak ini, menyatakan komitmen untuk bekerja sama dengan mitra bilateral guna menjaga keamanan regional, seperti dilansir France24.com.
Meksiko, di sisi lain, menolak tuduhan AS yang mengaitkan Maduro dengan kartel Sinaloa, dengan Presiden Claudia Sheinbaum menegaskan tidak ada bukti keterlibatan Venezuela dalam perdagangan narkoba. Dukungan dari Kuba dan Nikaragua juga memperkuat posisi Maduro, menunjukkan polarisasi di kawasan Amerika Latin.
Implikasi Geopolitik bagi Venezuela
Mobilisasi Milisi Venezuela mencerminkan strategi Maduro untuk memperkuat legitimasi domestik dan menghalau tekanan eksternal. Dengan dukungan Rusia, Tiongkok, dan Iran—yang menyediakan senjata, keuangan, dan bahan bakar—Venezuela berupaya menunjukkan ketahanan. Sistem pertahanan udara S-300VM dan rudal anti-kapal C-802A serta CM-90 memperkuat postur militer, meskipun keterbatasan logistik dan pelatihan membatasi kemampuan Milisi Venezuela dalam konflik berkepanjangan.
Namun, eskalasi ini berisiko memperburuk krisis regional. Sengketa Essequibo dengan Guyana dapat memicu konflik lebih luas jika ketegangan meningkat. Dukungan terbatas dari militer senior, seperti diklaim oposisi, juga dapat melemahkan efektivitas Milisi Venezuela. Sementara itu, operasi AS di Karibia memperkuat narasi Maduro tentang “agresi imperialis,” yang dapat menggalang dukungan domestik namun juga memperdalam isolasi diplomatik Venezuela.